Perjalanan profesi karyawan (TDB).
Ditulis oleh triwoko2007 di/pada September 9, 2007
Sejak kecil saya selalu diajari almarhum bapak & ibu tentang kehidupan mandiri, dengan tujuan agar saya dapat menyelesaikan setiap problem yang dihadapi.
Gemblengan a’la disiplin militer menjadi santapan se-hari2, semua diatur dengan standar jam aktivitas yang sudah ditentukan.
Misalkan jam sekian harus sudah bangun tidur, jam sekian saat makan, jam sekian harus istirahat tidur siang, jam sekian harus belajar, jam sekian harus membantu beres2 kerepotan rumah tangga, etc… etc…
Hukuman siap menanti apabila melanggar jam yang sudah ditentukan ortu, terlebih apabila melanggar jam belajar… wuihh pokoknya ngeri dan bikin kapok !! Kelak setelah dewasa saya baru menyadari, bahwa kedua ortu yang berprofesi sebagai guru harus menjaga integritas sebagai panutan anak didik, baik sewaktu mengajar di kelas maupun saat mendidik anak2nya di rumah.
Profesi ortu yang TDB cukup membentuk mindset anak ingin mengikuti jejak ortu sebagai TDB.
Saya masih bocah, umur sekitar 6-8 tahun, ketika sering diajak ibu ke rumah kakek di desa dan di rumah kakek ada aktivitas bisnis tembakau yang dikelola oleh paman adik ibu.
Saya sering ikut membantu salah satu karyawan (masih famili jauh) menyortir tembakau dan mengikat rangkaian tembakau di bambu kecil, siap dimasukkan oven (proses untuk menghilangkan kadar air di daun tembakau).
Setelah selesai membantu pekerjaan tersebut, saya selalu diberi uang jajan… duh senang sekali mempunyai uang jajan sendiri.
Saat itulah candu TDB mulai bersemi di hati anak kecil dan kalau sudah dewasa ingin berkarir menjadi TDB.
Namun di sisi lain juga mulai tertarik dengan profesi TDA yang disandang paman, karena pekerjaannya enteng, cuma atur sana atur sini… tetapi di kantongnya banyak duit dan hidupnya enak.
Apalagi setiap kali akan kembali ke rumah, saya selalu diberi uang jajan yang cukup banyak untuk ukuran anak kecil.
Saya selalu ber-angan2 (bahasa kerennya : “dream”), yakni apabila sudah seusia paman akan menjadi TDA sukses. Inilah dilema anak kecil… ingin jadi TDB tetapi juga ber-cita2 menjadi TDA sukses.
Kenangan masa kecil ini selalu membuat konflik mindset ketika dewasa, antara rasa puas (baca : aman) mendapatkan upah setelah bekerja keras, dengan rasa bebas menggunakan uang dari pendapatan bisnis.










WURYANANO berkata
Mas Bambang Triwoko ini memang Pribadi Dahsyat!
Tulisan-tulisannya sangat enak dibaca, dan menginspirasi.
Salut selalu buat Mas Bams sekeluarga.
Salam dari Surabaya.